RuangJabar merangkum perkembangan terbaru penembakan yang menewaskan tiga pegawai Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, saat mereka menjalankan tugas pelayanan pertanian pada Rabu, 9 September 2026. Korban merupakan pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya yang sedang berada dalam rangkaian perjalanan dinas untuk menyalurkan bantuan dan mendukung program pertanian masyarakat. Hingga Jumat, 11 September, Satgas Operasi Damai Cartenz menyatakan telah mengantongi ciri-ciri para terduga pelaku dan terus melakukan pengejaran.
Rombongan Kembali Menuju Wamena
Keterangan terbaru aparat menyebut rombongan Dinas Pertanian sebelumnya menjalankan kegiatan lapangan yang berkaitan dengan bantuan pangan dan program pertanian. Mereka membawa bantuan ternak babi kepada masyarakat di Kampung Kimbim, Distrik Asologaima. Setelah kegiatan selesai, rombongan bergerak kembali menuju Wamena.
Saat kendaraan melintas di wilayah Distrik Muliama, sekitar 20 kilometer dari Wamena, kelompok bersenjata menghadang rombongan. Kepolisian mencatat peristiwa terjadi sekitar pukul 15.53 WIT. Serangan tersebut mengenai tiga pegawai, sedangkan anggota rombongan lain selamat dan kemudian memberikan keterangan kepada penyidik.
Polisi sebelumnya menyebut rombongan berjumlah 11 orang. Aparat gabungan dari Satgas Operasi Damai Cartenz dan Polres Jayawijaya langsung bergerak setelah menerima laporan, mengamankan area, memeriksa saksi, serta melakukan penyisiran di sekitar lokasi kejadian.
Tiga Pegawai Dinas Pertanian Gugur
Tiga korban yang meninggal adalah Aprida Rapi, Alfonsius Albinus Meha, dan Willi Mbuik. Aprida, 49 tahun, menjabat sebagai Kepala Bidang Peternakan pada Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya. Ia mengalami luka tembak pada bagian perut dan meninggal di lokasi kejadian.
Alfonsius Albinus Meha, 35 tahun, bekerja sebagai dokter hewan di lingkungan Dinas Pertanian. Berdasarkan keterangan kepolisian, ia mengalami luka tembak pada bagian belakang kepala dan tangan kiri. Alfonsius juga meninggal di lokasi sebelum petugas membawa korban ke fasilitas kesehatan.
Korban ketiga, Willi Mbuik, merupakan pegawai muda di instansi tersebut. Kepolisian menyebut ia mengalami luka tembak pada bagian pinggang kanan. Willi sempat memperoleh penanganan medis di RSUD Wamena, tetapi nyawanya tidak tertolong.
Jenazah Willi kemudian diberangkatkan menuju kampung halamannya di Nusa Tenggara Timur. Dua jenazah lainnya juga dipersiapkan untuk dipulangkan kepada keluarga masing-masing. Peristiwa ini meninggalkan duka bagi keluarga, rekan kerja, dan jajaran Pemerintah Kabupaten Jayawijaya karena ketiga korban gugur saat menjalankan pelayanan kepada masyarakat.
Polisi Temukan Selongsong Dua Kaliber
Penyelidikan memasuki tahap penting ketika tim gabungan melakukan olah tempat kejadian perkara pada Kamis, 10 September. Polisi menemukan tiga selongsong peluru. Dua selongsong berkaliber 5,56 milimeter, yang lazim digunakan pada senjata api laras panjang, sedangkan satu selongsong lain berkaliber 9 milimeter dan mengarah pada penggunaan senjata api laras pendek.
Keterangan saksi menyebut kelompok penyerang diperkirakan berjumlah sekitar delapan orang. Dua di antaranya terlihat membawa senjata api laras panjang. Aparat juga menemukan jejak darah di lokasi, yang kemudian masuk dalam rangkaian bahan penyelidikan.
Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz Kombes Yusuf Sutejo menyatakan penyidik telah memperoleh ciri-ciri terduga pelaku dari pemeriksaan saksi yang selamat. Polisi masih mendalami identitas dan keterlibatan masing-masing orang, sementara dugaan awal aparat mengarah kepada kelompok bersenjata dari wilayah Nduga. Karena proses hukum masih berjalan, kepastian mengenai pelaku dan motif tetap menunggu hasil penyelidikan.
Sekitar 50 Personel Tambahan Dikerahkan
Pengejaran terhadap kelompok bersenjata berlanjut setelah polisi mengantongi petunjuk dari saksi dan barang bukti. Satgas Operasi Damai Cartenz menambah kekuatan di Kabupaten Jayawijaya dengan menggeser sekitar 50 personel dari Timika dan Lanny Jaya.
Penambahan personel bertujuan memperkuat pencarian sekaligus menjaga keamanan di wilayah yang menjadi jalur aktivitas masyarakat dan aparatur pemerintah. Aparat juga perlu memastikan proses penegakan hukum tidak mengganggu kegiatan warga yang tetap bergantung pada akses antardistrik.
Langkah pengamanan menjadi perhatian karena para korban bukan personel keamanan, melainkan pegawai sipil yang menjalankan program pertanian. Mereka bekerja pada sektor yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat, mulai dari peternakan, kesehatan hewan, hingga bantuan produksi pangan.
BKN Siapkan Hak Kepegawaian Korban
Peristiwa tersebut turut mendapat perhatian pemerintah pusat. BKN menyatakan sedang berkoordinasi dengan Pemkab Jayawijaya dan pihak terkait untuk mempercepat proses administrasi kepegawaian para korban sekaligus memastikan hak keluarga terpenuhi sesuai aturan.
Kepala BKN Zudan Arif Fakrulloh menyampaikan bahwa ASN yang dinyatakan tewas saat menjalankan tugas dapat memperoleh sejumlah hak sesuai persyaratan dan status kepegawaiannya. Hak tersebut antara lain kenaikan pangkat anumerta setingkat lebih tinggi, hak pensiun bagi pasangan atau ahli waris, santunan kematian akibat kecelakaan kerja, uang duka, biaya pemakaman, hingga bantuan beasiswa untuk ahli waris.
BKN menegaskan bahwa penetapan hak tetap membutuhkan kelengkapan administrasi dan memperhatikan status masing-masing korban. Pemerintah memandang proses tersebut bukan sekadar urusan administrasi, tetapi bagian dari penghormatan kepada pegawai yang meninggal ketika menjalankan tugas negara.
Keamanan Petugas Lapangan Perlu Jadi Evaluasi
Tragedi di Muliama juga menyoroti risiko yang dihadapi pegawai sipil ketika menjalankan pelayanan di wilayah rawan. Program pertanian, kesehatan hewan, pendidikan, dan layanan dasar tetap membutuhkan petugas yang harus bergerak dari satu distrik ke distrik lain.
Karena itu, evaluasi keamanan perjalanan dinas menjadi penting tanpa mengurangi akses pelayanan masyarakat. Koordinasi antara pemerintah daerah dan aparat keamanan dapat mempertimbangkan pemetaan rute, perkembangan situasi lapangan, komunikasi darurat, serta pendampingan pada area yang memiliki risiko tinggi.
Untuk saat ini, fokus utama aparat berada pada pengejaran para terduga pelaku dan penguatan alat bukti. Keluarga korban juga menunggu proses penyelidikan berjalan tuntas serta memberikan kepastian hukum. Tiga pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya berangkat untuk menjalankan tugas pelayanan publik, namun perjalanan tersebut berakhir menjadi tragedi yang kembali menegaskan pentingnya perlindungan bagi aparatur sipil yang bekerja langsung di lapangan.
You have not enough Humanizer words left. Upgrade your Surfer plan.





