Ruang Jabar melaporkan sebanyak 508.615 anak di Jawa Barat masih tercatat tidak bersekolah berdasarkan data pemerintah per 8 Oktober 2026. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyatakan jumlah tersebut sudah menurun dibanding data awal, tetapi persoalan anak tidak sekolah masih menjadi tantangan besar yang ditargetkan dapat dituntaskan pada 2029.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Purwanto menjelaskan jumlah anak tidak sekolah telah berkurang 138.989 orang atau sekitar 21,46 persen. Data terbaru tersebut disampaikan dalam laporan detikJabar.
Angka Masih Lebih dari Setengah Juta
Penurunan lebih dari 138 ribu anak menunjukkan ada kemajuan.
Namun angka 508 ribu tetap sangat besar.
Jika dibandingkan dengan populasi sebuah kota menengah, jumlah tersebut setara ratusan ribu anak yang belum terhubung kembali dengan pendidikan formal maupun jalur lain yang diakui.
Pemerintah perlu melihat persoalan berdasarkan wilayah.
Penyebab anak tidak sekolah di Bandung dapat berbeda dengan daerah perdesaan di selatan Jawa Barat.
Karena itu, satu program tidak selalu cocok untuk seluruh kabupaten dan kota.
Masalah Ekonomi Masih Menjadi Faktor
Biaya sekolah bukan satu-satunya pengeluaran keluarga.
Meskipun pendidikan negeri memiliki berbagai skema bantuan, orang tua tetap menanggung biaya transportasi, seragam, perlengkapan, makan, dan kebutuhan lain.
Keluarga dengan pendapatan rendah dapat menghadapi pilihan sulit.
Anak yang sudah berusia remaja kadang diminta membantu bekerja.
Situasi ini membuat kebijakan pendidikan perlu terhubung dengan program sosial.
Bantuan sekolah akan lebih efektif jika kondisi ekonomi keluarga ikut diperhatikan.
Jarak Sekolah Bisa Menjadi Penghalang
Sebagian daerah memiliki akses sekolah yang tidak merata.
Anak harus menempuh jarak jauh untuk mencapai SMP atau SMA.
Transportasi publik juga tidak tersedia di semua wilayah.
Jika biaya perjalanan terlalu tinggi, risiko anak berhenti sekolah meningkat.
Pembangunan unit sekolah baru bisa menjadi solusi di beberapa tempat.
Namun pemerintah juga dapat menggunakan model sekolah terbuka, pembelajaran hybrid, atau dukungan transportasi.
Yang penting adalah memastikan anak tetap mendapat akses pendidikan yang layak.
Program Jabar Sakola Jadi Salah Satu Upaya
Pemprov Jawa Barat sebelumnya memperkenalkan Program Jabar Sakola untuk membantu menekan angka putus sekolah.
Program tersebut diarahkan pada bantuan pendidikan bagi siswa yang membutuhkan.
Dalam informasi resmi Pemprov Jawa Barat, pemerintah menekankan pentingnya dukungan agar keterbatasan ekonomi tidak membuat anak kehilangan kesempatan belajar.
Program bantuan perlu dipadukan dengan pendataan yang akurat.
Jika data penerima tidak mutakhir, anak yang paling membutuhkan dapat justru terlewat.
Anak Tidak Sekolah Punya Banyak Kategori
Istilah anak tidak sekolah mencakup kondisi yang beragam.
- Ada anak yang belum pernah masuk sekolah.
- Ada yang berhenti di tengah jenjang pendidikan.
- Ada pula yang sudah lulus satu jenjang tetapi tidak melanjutkan ke tingkat berikutnya.
Pendekatan untuk masing-masing kelompok berbeda.
Anak yang baru berhenti beberapa bulan mungkin lebih mudah kembali ke sekolah formal.
Sementara anak yang sudah lama bekerja membutuhkan model belajar lebih fleksibel.
Pendidikan kesetaraan dapat menjadi alternatif untuk kelompok tertentu.
Pernikahan Dini Juga Berpengaruh
Pernikahan usia muda dapat menjadi salah satu penyebab pendidikan terputus.
Anak yang sudah menikah sering kesulitan kembali ke lingkungan sekolah reguler.
Tanggung jawab rumah tangga kemudian membuat pendidikan menjadi prioritas kedua.
Pencegahan pernikahan dini karena itu berhubungan langsung dengan upaya mempertahankan anak di sekolah.
Edukasi kesehatan reproduksi, pendampingan keluarga, dan perlindungan anak perlu berjalan bersama program pendidikan.
Sekolah Harus Mencegah Anak Keluar
Mengembalikan anak yang sudah putus sekolah lebih sulit dibanding mencegah mereka keluar sejak awal.
Sekolah dapat menggunakan sistem peringatan dini.
Ketidakhadiran yang terus meningkat perlu segera ditindaklanjuti.
Guru dan wali kelas dapat berkomunikasi dengan keluarga.
Jika penyebabnya biaya, pemerintah dapat menghubungkan keluarga dengan program bantuan.
Jika masalahnya perundungan, sekolah perlu melakukan intervensi.
Pendekatan cepat dapat mencegah anak benar-benar meninggalkan pendidikan.
Data Harus Terus Diperbarui
Angka 508.615 anak merupakan gambaran pada satu titik waktu.
Jumlah dapat berubah.
Ada anak yang kembali sekolah, pindah daerah, memasuki pendidikan kesetaraan, atau berubah status.
Karena itu, sistem data harus terintegrasi.
Pemerintah provinsi perlu bekerja dengan kabupaten, kota, sekolah, desa, dan instansi kependudukan.
Data yang baik membantu menentukan lokasi dengan kebutuhan terbesar.
Anggaran kemudian dapat diarahkan secara lebih tepat.
Dunia Kerja Membutuhkan Pendidikan Lebih Tinggi
Anak yang berhenti sekolah menghadapi risiko lebih besar masuk pekerjaan informal dengan pendapatan rendah.
Pasar kerja semakin membutuhkan keterampilan.
Bahkan pekerjaan teknis sederhana mulai menggunakan perangkat digital.
Pendidikan tidak menjamin seseorang langsung mendapatkan pekerjaan, tetapi memperluas pilihan.
Karena itu, mengembalikan anak ke pendidikan merupakan investasi ekonomi jangka panjang.
Jawa Barat memiliki industri besar.
Tenaga kerja muda perlu dipersiapkan agar dapat masuk ke sektor yang produktif.
Target 2029 Membutuhkan Percepatan
Jika pemerintah ingin menuntaskan persoalan hingga 2029, penurunan harus berlangsung konsisten setiap tahun.
Jumlah lebih dari setengah juta tidak dapat diselesaikan melalui satu jenis bantuan.
Intervensi harus melibatkan sekolah, pemerintah daerah, keluarga, dunia usaha, serta komunitas.
- Anak yang sudah bekerja mungkin membutuhkan jadwal fleksibel.
- Anak dari keluarga miskin membutuhkan bantuan biaya.
- Anak yang tinggal jauh dari sekolah membutuhkan solusi transportasi atau akses pembelajaran.
Keberhasilan Bukan Hanya Angka
Penurunan jumlah anak tidak sekolah penting.
Namun pemerintah juga harus memastikan mereka yang kembali benar-benar bertahan sampai lulus.
Memasukkan anak ke daftar sekolah tanpa dukungan lanjutan hanya memindahkan masalah.
Kualitas pembelajaran juga perlu diperhatikan.
Anak yang tertinggal bertahun-tahun membutuhkan pendampingan akademik.
Target 2029 akan lebih bermakna jika bukan hanya mengurangi statistik, tetapi juga memberi jalur pendidikan yang realistis bagi setiap anak.
Jawa Barat telah mencatat penurunan cukup besar.
Tantangan berikutnya adalah menjangkau lebih dari 508 ribu anak yang masih berada di luar sistem pendidikan dan memastikan mereka memiliki alasan kuat untuk kembali belajar.

















