RuangJabar mencatat proses transisi pengelolaan Bandung Zoo memasuki tahap penting pada awal Oktober 2026 setelah Pemerintah Kota Bandung memprioritaskan nasib eks pekerja yang terdampak pergantian pengelola. Sebanyak 57 orang dari total 121 eks karyawan tercatat terdampak, sementara Faunaland mulai menyiapkan organisasi, revitalisasi kawasan, dan kebutuhan operasional sebelum kebun binatang kembali dibuka untuk masyarakat.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan Pemkot ingin memastikan proses transisi berjalan dengan baik sebelum revitalisasi diteruskan secara lebih terarah. Salah satu persoalan utama yang harus diselesaikan adalah aspek sosial dan keberlanjutan kesempatan kerja bagi mantan karyawan.
Berdasarkan laporan ANTARA, pemerintah kota saat ini memetakan peluang penempatan kerja berdasarkan kompetensi dan pengalaman masing-masing pekerja terdampak.
Sebanyak 57 Eks Karyawan Terdampak
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Bandung Yayan Ahmad Brilyana menyebut 57 pekerja yang terdampak memiliki latar belakang keterampilan cukup beragam. Pengalaman mereka mencakup perawatan satwa, operasional, sarana dan prasarana, pertamanan, pengelolaan nutrisi satwa, pelayanan tiket, hingga administrasi.
Perbedaan keahlian tersebut menjadi pertimbangan dalam proses pencocokan dengan kebutuhan tenaga kerja yang tersedia. Hasil asesmen yang sebelumnya dilakukan Faunaland digunakan sebagai salah satu dasar untuk melihat posisi yang sesuai bagi setiap pekerja.
Pemkot kemudian berkoordinasi dengan perangkat daerah untuk mengetahui kebutuhan tenaga kerja yang bisa diisi. Mekanisme yang disiapkan dapat berupa tenaga outsourcing maupun kontrak perorangan sesuai kebutuhan instansi dan ketentuan yang berlaku.
Langkah ini tidak otomatis membuat seluruh pekerja ditempatkan pada pekerjaan yang sama seperti ketika masih berada di Bandung Zoo. Pemerintah perlu menyesuaikan kompetensi mereka dengan posisi yang tersedia di masing-masing perangkat daerah.
Faunaland Siapkan Pengelolaan Baru
Di sisi lain, Faunaland sebagai pengelola baru terus mempersiapkan Bandung Zoo untuk fase berikutnya. Pekerjaan tidak hanya menyentuh kawasan fisik, tetapi juga struktur organisasi, sumber daya manusia, dan standar pengelolaan satwa.
General Manager Faunaland Dwiki G Prakoso menjelaskan persiapan organisasi dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan setiap fase revitalisasi. Bandung Zoo hingga awal Oktober masih belum kembali menerima kunjungan masyarakat umum.
Selama masa penutupan, pekerja lama tetap memiliki peran dalam menjaga kawasan dan merawat satwa. Faunaland menyatakan kontribusi mereka menjadi bagian penting selama periode transisi.
Pengelola baru juga menempatkan kesejahteraan satwa sebagai salah satu fokus revitalisasi. Persiapan operasional harus selesai sebelum kawasan kembali dibuka agar pelayanan kepada pengunjung dan pemeliharaan satwa berjalan sesuai standar yang ditetapkan.
Menurut Media Indonesia, penyusunan tim pengelola berjalan bersamaan dengan revitalisasi dan persiapan menuju pembukaan kembali Bandung Zoo.
Revitalisasi Belum Berarti Langsung Dibuka
Masyarakat masih harus menunggu sebelum dapat kembali berkunjung. Meski proses revitalisasi berjalan, belum ada tanggal pembukaan kembali yang diumumkan secara pasti pada 5 Oktober 2026.
Tahapan transisi harus mencakup kesiapan kawasan, organisasi, operasional, tenaga kerja, serta kebutuhan satwa. Karena itu, pembukaan kembali tidak hanya bergantung pada penyelesaian renovasi fisik.
Bandung Zoo memiliki fungsi yang lebih luas dibandingkan tempat rekreasi biasa. Kawasan tersebut juga berkaitan dengan konservasi, edukasi satwa, pekerjaan puluhan tenaga profesional, dan aktivitas ekonomi pendukung di sekitarnya.
Pergantian pengelola kemudian membawa konsekuensi yang harus ditangani secara hati-hati. Pemkot perlu memastikan aset dan fungsi publik berjalan baik, sementara pengelola baru harus membangun sistem operasional yang mampu memenuhi kebutuhan jangka panjang.
Persoalan Pekerja Menjadi Bagian Penting
Nasib eks karyawan menjadi salah satu isu paling sensitif dalam pergantian pengelolaan Bandung Zoo. Banyak pekerja memiliki pengalaman bertahun-tahun dengan fungsi yang sangat spesifik, terutama mereka yang berkaitan langsung dengan satwa.
Pemkot Bandung mencoba menjembatani persoalan tersebut melalui asesmen dan penempatan alternatif. Proses ini penting karena tidak seluruh eks karyawan terserap dalam struktur Faunaland.
Bagi pekerja, kepastian mengenai kelanjutan pekerjaan memiliki dampak langsung terhadap penghasilan keluarga. Bagi pemerintah kota, penyelesaian masalah tersebut juga menentukan apakah transisi pengelolaan dapat berlangsung tanpa meninggalkan persoalan sosial berkepanjangan.
Karena itulah Farhan menyebut penyelesaian aspek sosial sebagai salah satu prioritas sebelum revitalisasi dilanjutkan secara lebih terarah bersama pengelola baru.
Publik Menunggu Wajah Baru Bandung Zoo
Revitalisasi Bandung Zoo kini tidak hanya dinilai dari perubahan fasilitas. Perhatian masyarakat juga mengarah pada peningkatan kesejahteraan satwa, kualitas pengelolaan, keamanan kawasan, hingga bagaimana pengalaman pekerja lama tetap dapat dimanfaatkan.
Faunaland tengah menyiapkan kebutuhan organisasi berdasarkan fase operasional. Sementara itu, pemerintah kota melanjutkan koordinasi mengenai penempatan pekerja yang terdampak.
Belum diumumkannya jadwal pembukaan membuat fase transisi masih menjadi pekerjaan utama. Setiap tahapan perlu diselesaikan sebelum Bandung Zoo kembali menerima masyarakat dalam skala penuh.
Perkembangan awal Oktober memperlihatkan bahwa pembenahan salah satu ikon Kota Bandung tersebut tidak hanya berbicara soal renovasi. Penyelesaian persoalan tenaga kerja dan pembentukan tata kelola baru menjadi dua bagian yang sama pentingnya.
Jika tahap tersebut dapat diselesaikan, perhatian berikutnya akan bergeser pada hasil revitalisasi, standar kesejahteraan satwa, dan waktu pembukaan Bandung Zoo.
Hingga 5 Oktober 2026, Pemkot Bandung masih memprioritaskan penyelesaian masa transisi dan memastikan 57 eks pekerja terdampak memperoleh tindak lanjut sesuai kompetensi serta kebutuhan tenaga kerja yang tersedia.















